Pertanian Kota: Solusi Inovatif Menghadapi Tantangan Perubahan Iklim

redaksi
13, Januari, 2026, 20:53:59
Pertanian Kota: Solusi Inovatif Menghadapi Tantangan Perubahan Iklim

Suarapublic.com Semoga kebahagiaan menyertai setiap langkahmu. Pada Edisi kali Ini, Suarapublic akan menyampaikan informasi menarik dari Nasional. Artikel Yang Menjelaskan " Pertanian Kota Solusi Inovatif Menghadapi Tantangan Perubahan Iklim" Dapatkan wawasan full dengan membaca hingga akhir.

Urban farming atau pertanian perkotaan merupakan salah satu solusi yang diusulkan untuk menghadapi tantangan ketahanan pangan di tengah kompleksitas perubahan iklim. Menurut United Nations Development Programme (UNDP), aktivitas ini meliputi produksi, pengolahan, dan pemasaran bahan pangan di kawasan perkotaan dan metropolitan. Dengan cara ini, kebutuhan pangan dapat dipenuhi lebih dekat dengan konsumen, yang secara signifikan mengurangi ketergantungan terhadap distributor panjang yang rentan terhadap guncangan iklim dan krisis energi.

Luc Mougeot (2001) dalam kutipannya menyatakan bahwa urban farming berfokus pada industri pertanian yang berlokasi di kawasan perkotaan atau pinggiran kota. Aktivitas ini bertujuan untuk memproduksi, memproses, dan mendistribusikan beragam bahan makanan. Proses distribusi yang biasanya memerlukan konsumsi bahan bakar fosil secara besar-besaran menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan, sehingga menambah tekanan pada lingkungan hidup yang sudah tertekan.

Melihat kenyataan di lapangan, liputan terkini mencatat bahwa perubahan iklim bukanlah sekadar ancaman yang dibahas di forum-forum internasional, melainkan sebuah kenyataan yang sudah dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika perubahan iklim menyebabkan kekeringan atau gagal panen, masyarakat perkotaan menjadi salah satu yang pertama kali merasakan dampaknya. Ini terlihat dari kelangkaan pasokan pangan atau lonjakan harga yang bisa merugikan konsumen.

Saat ini, masih ada anggapan bahwa urban farming memerlukan lahan yang cukup luas dan modal yang tidak sedikit. Padahal, aktivitas ini dapat berlangsung pada lahan-lahan kecil, bahkan di pekarangan rumah, tanpa memerlukan investasi yang besar. Dengan memproduksi pangan secara lokal, kebutuhan transportasi untuk mendistribusikan pangan pun bisa dipangkas dengan signifikan, yang pada gilirannya berkontribusi kepada penurunan jejak karbon sistem pangan di perkotaan. Urban farming bukan hanya tren semata, namun lebih pada solusi strategis bagi kota untuk memperkuat ketahanan pangan dan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mengambil langkah nyata dalam menciptakan kota hijau yang berkelanjutan. Kegiatan-kegiatan yang mereka selenggarakan menggunakan sumber daya lokal dan limbah perkotaan dapat menghasilkan produk pertanian serta peternakan. Urban farming seharusnya dilihat sebagai bagian yang integral dalam kebijakan pertanian perkotaan, strategi mitigasi, serta perencanaan tata kota yang berkelanjutan.

Namun, di balik semua manfaat ini, terdapat ironi bahwa kota-kota justru menyumbang emisi karbon yang besar sambil menghadapi dampak terberat dari perubahan iklim. Dengan bergantung pada pasokan pangan dari daerah perdesaan, keterbatasan pasokan bisa dengan cepat menimbulkan krisis pangan di perkotaan. Dalam konteks ini, keberadaan vegetasi hijau di kota-kota akan sangat membantu menurunkan suhu udara, mengurangi efek pulau panas, dan meningkatkan daya serap air hujan.

Bagi masyarakat yang ingin terlibat dalam aktivitas bercocok tanam, konsep urban farming dan teknik microgreen bisa menjadi solusi yang menarik. Perkembangan populasi yang terus meningkat di kawasan perkotaan menghadirkan berbagai tantangan, termasuk ketahanan pangan. Ketergantungan pada pasokan dari perdesaan dapat memperburuk keadaan jika terjadi gangguan pada akses pangan.

Urban farming memungkinkan individu dan keluarga untuk memproduksi pangan dengan lahan yang terbatas dan modal yang tidak besar. Dalam konteks mitigasi perubahan iklim, aktivitas ini berkontribusi pada pengurangan jarak tempuh pangan (food miles) serta menciptakan ruang hijau baru. Di Indonesia, yang masih mengalami defisit ruang terbuka hijau, peningkatan urban farming menjadi solusi ekologis yang cepat dan berkelanjutan.

Dengan berbagai keuntungan yang ditawarkan, urban farming seharusnya dipandang sebagai kegiatan yang penting dan jangan hanya dianggap sekadar hobi. Kota dengan kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi yang tinggi sangat rentan terhadap guncangan akibat perubahan iklim. Jika diimplementasikan secara masif dan berkelanjutan, urban farming dapat mengubah wajah kota menjadi lebih sehat, tangguh, dan berkeadilan ekologis.

Dengan demikian, sudah saatnya kita menyadari pentingnya urban farming dalam menghadapi tantangan besar yang dihadapi oleh masyarakat perkotaan. Melalui pendekatan yang tepat, kita tidak hanya akan bertahan dari dampak perubahan iklim, tetapi juga berusaha menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk generasi mendatang.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.