Jabodetabek Bersiap: Rabu Kelabu, Awan Tebal Dominasi Langit Pagi
Suarapublic.com Hai semoga harimu menyenangkan. Pada Edisi kali Ini, Suarapublic akan menyampaikan informasi menarik dari Nasional. Tulisan Ini Menjelaskan " Jabodetabek Bersiap Rabu Kelabu Awan Tebal Dominasi Langit Pagi" Yuk
Cuaca di Jakarta dan sekitarnya pada hari Rabu, 12 November 2025, diprediksi didominasi awan tebal. Namun, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur diperkirakan akan diguyur hujan ringan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengembangkan sistem pusat kendali ganda (dual command center) untuk memperkuat jaringan peringatan dini multi-bencana nasional.
Wilayah penyangga Jakarta, seperti Kota Bogor, Kota Depok, dan Kota Bekasi di Jawa Barat, diperkirakan berawan tebal di pagi hari dan hujan ringan pada siang hingga malam hari.
BMKG melaporkan bahwa seluruh wilayah Jakarta akan berawan tebal pada Rabu pagi sekitar pukul 07.00 WIB.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyarankan masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di luar rumah, setelah BRIN menemukan partikel mikroplastik dalam air hujan di Jakarta.
Pada siang hingga malam hari, wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu diprediksi tertutup awan tebal. Sementara itu, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur diperkirakan akan mengalami hujan ringan.
Di Kota Tangerang, Banten, langit diperkirakan akan tertutup awan tebal sepanjang hari.
Banjir di Kota Semarang, Jawa Tengah, tidak hanya menyebabkan genangan air, tetapi juga mengganggu aktivitas sehari-hari warga. Jembatan Metro 2, penghubung vital antara Kelurahan Meteseh dan Rowosari di Kecamatan Tembalang, ambrol akibat banjir.
Menurut Sonhaji, warga Semarang, ambrolnya jembatan menyebabkan warga harus berjuang melintasi sungai dengan risiko tinggi. Anggota DPRD Kota Semarang, Dini Inayati, menanggapi serius kejadian ini dan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang untuk memfasilitasi pembangunan ulang jembatan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa pusat kendali utama dibangun di Jakarta dan didukung oleh backup command center di Bali sebagai sistem redundansi nasional. Sistem ini mengintegrasikan pemantauan gempa bumi, tsunami, cuaca ekstrem, dan kualitas udara ke dalam satu sistem nasional.
Integrasi ini merupakan bagian dari transformasi digital BMKG menuju sistem real-time disaster monitoring yang lebih tangguh dan efisien. Sistem ini juga didukung oleh algoritma otomatis hasil proyek Nasional Disaster Resilience Initiative Project (IDRP), hasil kolaborasi antara BMKG dan BNPB dengan dukungan Bank Dunia.
Teuku Faisal menegaskan bahwa Nasional bergerak menuju sistem peringatan dini terpadu yang setara dengan standar lembaga meteorologi dunia, sehingga mampu memberikan layanan publik yang lebih cepat dan akurat saat menghadapi potensi bencana alam.
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.